Bunga Terakhir Buat Alfi Apr 2026
Bunga terakhir ini bukan hanya tanda perpisahan. Ia adalah surat tanpa suara: pengakuan bahwa ada sesuatu pada Alfi yang akan terus tumbuh di relung yang tak kasat mata. Di bawah sinar bulan, kelopak menutup setengah, seolah menyimpan rahasia yang hanya kita berdua pahami. Aku menyalakan lilin kecil di sampingnya—cahaya kecil untuk menandai jejak yang pernah kau tinggalkan. Asapnya melingkar, mengangkat wangi mawar ke langit, membiarkan malam memelihara memori.
Esok, mungkin bunga ini akan layu. Kelopaknya akan berjatuhan satu per satu dan menyisakan batang kering yang kukumpulkan ke dalam laci kecil bersama nota, foto, dan tiket bioskop yang kau simpan. Namun untuk sekarang, bunga terakhir buat Alfi adalah ritual: penghormatan pada sesuatu yang pernah begitu hidup; pelukan lembut pada kenangan yang menolak pudar; serta janji sunyi bahwa meski wujudmu tak lagi di depan mata, jejakmu tetap membimbing langkah-langkah yang kutempuh. bunga terakhir buat alfi
Kupetik bunga itu perlahan, terasa seperti memegang waktu yang tersisa. Batangnya dingin dan sedikit bengkok, bekas hari-hari yang menunduk. Daunnya menempel, masih menyimpan embun yang tak sempat mengering. Warna merahnya sudah meredup; bukan karena layu saja, tapi karena semua kata yang belum sempat kuucap padanya telah menyerap ke dalam warna itu—rindu, maaf, terima kasih, dan kebisuan yang panjang. Bunga terakhir ini bukan hanya tanda perpisahan
Di meja kayu itu, tersisa satu bungkus kertas cokelat; di dalamnya, sebuah bunga—bukan rangkaian gemerlap yang dulu kau pesan, melainkan satu tangkai sederhana: mawar pucat dengan kelopak hampir tembus cahaya. Namanya kecil, tapi berat: bunga terakhir buat Alfi. Kelopaknya akan berjatuhan satu per satu dan menyisakan